Tiga ASN Inspektorat Daerah NTT (Ibu Tini, Ibu Nina dan Ibu Dece) yang masuk garis finish di jalan sehat (dok: jekson manafe)

ItdaprovNTT – Belum ada matahari ketika Tarus terbangun lebih awal dari biasanya, Sabtu pagi itu. Pukul 05.30 WITA, langit masih berwarna kelabu kebiruan. Kabut tipis masih menggantung di atas pepohonan. Jalanan yang biasanya lengang, kini sudah dipenuhi manusia. Ada yang melakukan pemanasan dengan melompat-lompat kecil, ada yang mengikat tali sepatu berulang-ulang karena gugup, ada yang sibuk mengabadikan momen dengan ponselnya.

Dan di tengah keramaian itu, ada satu barisan yang begitu mudah dikenali. Bukan karena mereka paling ramai, bukan karena mereka paling berisik, tetapi karena warna mereka begitu tegas: biru.

Biru pekat. Biru yang tertulis jelas di dada: INSPEKTORAT DAERAH NTT.

Sebanyak 28 orang berdiri di sana. 28 Aparatur Sipil Negara yang sehari-harinya lebih akrab dengan tumpukan berkas, laporan hasil pemeriksaan, dan ruang rapat yang dingin. Pagi itu, mereka menanggalkan semua itu. Mereka datang dengan satu identitas baru: peserta jalan sehat dan lomba lari 10 KM dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Nusa Tenggara Timur ke-68.

Sebagian peserta lomba lari dan jalan sehat 10 KM dari Inspektorat Daerah Prov. NTT (Dok. Jekson Manafe)

Detik-Detik Pelepasan yang Membakar Semangat

Tepat di depan SDK Don Bosco Tarus, yang menjadi titik start, suasana semakin memanas meski udara masih dingin.

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol. Purn. Dr. Drs. Johni Asadoma, M.Hum, berdiri di hadapan ratusan peserta. Mantan jenderal polisi itu tidak datang hanya untuk sekadar melepas. Ia datang untuk menyalakan semangat.

Dengan suara yang tegas, lantang, dan penuh wibawa, ia menyampaikan pesan yang langsung meresap ke dada setiap peserta:

“Pagi ini kita tidak hanya berlari dan berjalan. Pagi ini kita menunjukkan bahwa kita cinta NTT!”

“Saya minta semua peserta, baik yang lari maupun yang jalan sehat, tunjukkan semangat juang. Jaga kesehatan, jaga kekompakan, jaga kebersamaan. Jangan tinggalkan temanmu di belakang. Kita start bersama, kita finish bersama sebagai orang NTT yang kuat!”

“Jadikan HUT NTT ke-68 ini sebagai momentum untuk bangkit. ASN harus menjadi contoh. Kalau ASN-nya sehat, kuat, dan disiplin, maka pelayanan kepada masyarakat juga akan kuat. Mari kita bergerak bersama, berlari bersama, untuk NTT yang lebih maju, lebih sehat, dan lebih sejahtera!”

“Selamat berjuang! Jaga sportivitas, jaga keselamatan, dan nikmati setiap kilometernya!”

Sorak-sorai pun pecah. Tepuk tangan menggema. Bendera start dikibaskan. Dan ratusan kaki mulai menghentak aspal Tarus.

10 Kilometer yang Bukan Sekadar Angka

Panitia menetapkan rute yang sama untuk semua peserta, baik pelari maupun pejalan sehat: start di depan SDK Don Bosco Tarus dan finish di depan Polres Kupang di Babau, sejauh 10 Kilometer.

10 Kilometer. Bagi seorang atlet, itu mungkin hanya pemanasan. Tapi bagi ASN yang setiap hari duduk di balik meja kerja, 10 Kilometer adalah ujian mental, ujian fisik, dan ujian kebersamaan.

Di sinilah cerita Inspektorat Daerah NTT menjadi menarik.

Mereka tidak datang dengan satu gaya. Mereka datang dengan dua misi yang berbeda namun saling melengkapi.

Pertama, tim lomba lari. Sebanyak 6 orang dipilih menjadi duta kecepatan. Mereka adalah mereka yang selama ini diam-diam berlatih, yang percaya bahwa Inspektorat bukan hanya bisa cepat dalam bekerja, tetapi juga cepat di lintasan. Sejak bendera start dikibaskan, keenam pelari ini langsung melesat. Napas mereka teratur, langkah mereka panjang, mata mereka hanya tertuju ke depan, ke arah Babau.

Mereka berlari melewati tikungan, tanjakan, dan jalanan yang mulai ramai oleh warga yang keluar untuk menyaksikan. Setiap kali melewati warga, mereka disambut teriakan, “Ayo Inspektorat! Ayo biru!”

Kedua, tim jalan sehat. Sebanyak 22 orang. Jumlah yang jauh lebih besar. Mereka tidak mengejar podium. Mereka mengejar sesuatu yang jauh lebih berharga: kebersamaan dan kesehatan.

Barisan jalan sehat Inspektorat ini begitu hidup. Ada yang berjalan sambil bercanda, ada yang berjalan sambil bernyanyi kecil, ada yang berjalan sambil saling menyemangati ketika kaki mulai terasa berat. Ada yang membawa botol air mineral dan membagikannya ke rekan di sampingnya. Ada yang berhenti sejenak hanya untuk memastikan temannya yang tertinggal bisa kembali bergabung.

Di kilometer ke-3, keringat mulai membasahi punggung kostum biru mereka. Di kilometer ke-5, napas mulai terengah. Di kilometer ke-7, kaki mulai terasa pegal. Tapi tidak ada satu pun yang mengeluh untuk menyerah.

“Caeee, sedikit lagi! Babau sudah dekat!” teriak salah satu peserta, yang langsung disambut tawa dan semangat baru dari rombongan.

Itulah wajah Inspektorat pagi itu. Bukan wajah kaku yang sering dibayangkan masyarakat tentang pengawas. Tetapi wajah yang humanis, hangat, dan penuh tawa.

Ketika Auditor Turun ke Jalan

Masyarakat mengenal Inspektorat Daerah sebagai lembaga pengawas. Tugas mereka adalah memastikan pemerintahan berjalan bersih, akuntabel, dan sesuai aturan. Mereka adalah mata dan telinga Gubernur dalam mengawasi jalannya birokrasi.

Namun Sabtu pagi itu, mereka menunjukkan bahwa di balik ketegasan itu, ada hati yang juga mencintai NTT dengan cara yang sederhana: dengan bergerak.

Keikutsertaan 28 ASN ini adalah pesan yang kuat. Bahwa untuk mengawasi NTT, mereka harus terlebih dahulu sehat dan kuat. Bahwa untuk melayani masyarakat NTT, mereka harus merasakan denyut nadi masyarakat NTT, termasuk dengan berjalan dan berlari di jalan yang sama dengan masyarakat.

Di sepanjang rute Tarus-Babau, mereka tidak berjalan sendirian. Warga keluar dari rumah, anak-anak kecil melambaikan tangan, para pedagang pagi ikut bersorak. Dan rombongan biru itu membalas dengan senyuman dan lambaian tangan. Ada sekat yang runtuh pagi itu: sekat antara pemerintah dan rakyat.

“Kami senang sekali bisa ikut. Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal kami hadir untuk NTT. NTT ulang tahun, kami harus ikut merayakan dengan cara yang sehat,” ujar salah satu ASN Inspektorat yang mengikuti jalan sehat, dengan wajah masih merah karena lelah namun penuh bangga.

Garis Finish di Babau: Bukan Akhir, Tapi Awal

Satu per satu, rombongan biru itu mulai memasuki garis finish di depan Polres Kupang di Babau.

Yang pertama tiba tentu saja para pelari. Dengan dada yang naik-turun, mereka mengangkat tangan. Bukan karena mereka juara, tetapi karena mereka berhasil menaklukkan dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, rombongan jalan sehat tiba. Mereka datang tidak sendiri-sendiri, mereka datang beriringan, bergandengan, saling menepuk pundak. Mereka finish bersama-sama, persis seperti pesan Wakil Gubernur saat melepas mereka tadi pagi: start bersama, finish bersama.

Di garis finish itu, ada pelukan. Ada tawa lepas. Ada foto bersama dengan kostum biru yang sudah basah kuyup oleh keringat. Ada rasa lega yang tak bisa dibayar dengan apapun.

Mereka telah menempuh 10 KM. Mereka telah membuktikan bahwa Inspektorat Daerah NTT bukan hanya kuat dalam mengawal administrasi, tetapi juga kuat dalam menjaga kebugaran dan kekompakan.

 

NTT ke-68: Sehat, Kuat, dan Bergerak Bersama

HUT NTT ke-68 tahun ini mengusung semangat untuk terus bergerak maju. Dan pagi itu, Inspektorat Daerah Provinsi NTT telah menerjemahkan semangat itu dengan cara yang paling nyata.

Mereka bergerak. Mereka berkeringat. Mereka tertawa. Mereka saling menguatkan.

Dari Tarus hingga Babau, sejauh 10 Kilometer, jejak sepatu mereka telah terukir di aspal. Namun yang lebih abadi adalah jejak semangat yang mereka tinggalkan: bahwa ASN NTT, khususnya ASN Inspektorat Daerah NTT, siap menjadi garda terdepan, bukan hanya dalam pengawasan, tetapi juga dalam membangun NTT yang sehat, disiplin, dan penuh kebersamaan.

Pagi itu, warna biru bukan lagi sekadar warna kostum olahraga. Pagi itu, biru adalah simbol kesetiaan. Biru adalah simbol kebersamaan. Biru adalah simbol cinta untuk Nusa Tenggara Timur.

Dan ketika matahari akhirnya terbit sempurna di atas Babau, 28 ASN itu pulang dengan satu keyakinan baru: Jika 10 KM saja bisa kami taklukkan bersama, maka apapun tantangan untuk NTT, pasti bisa kita taklukkan bersama-sama.

Dirgahayu Nusa Tenggara Timur ke-68! (penulis: Jibrael Po)

 

By Website